Langsung ke konten utama

Kebodohan Bagai Api Pembakar Agama, dan Ilmu Bagai Air Pemadamnya



Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al Alaq ayat 1

         ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

Artinya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan

Iqra' (bacalah), membaca adalah bagian dari ilmu, maka begitu pentingnya ilmu dalam agama islam, orang yang berilmu akan selamat dalam kehidupannya, dan orang yang tidak mempunya ilmu akan tersesat jauh dari Allah dan nabinya Muhammad SAW, maka diibaratkan oleh sebagian ulama  al ilmu nuurun (ilmu adalah cahaya), kebodohan adalah dzulumat (kegelapan), maka apabila dalam kegelapan kita tidak memiliki lampu maka kita akan tersesat, maka barangsiapa yang memiliki lampu dia akan selamat, dari itu apabila di suatu tempat di situ sedikit para ulama maka redup lampunya, tetapi kalau banyak ulama nya terang menderang, sehingga ulama berkata :

لولا العلماء فصار الناس كالبهائم

kalau bukan karna para ulama maka manusia ini hidup akan seperti binatang, tidak ngerti akhlaq yang baik, tidak mengerti mana yang haq dan mana yang bathil, tidak tau mana yang wajib mana yang haram, maka kehidupan mereka seperti kehidupan binatang.

Ulama semakin banyak di suatu tempat seperti cahaya yang menyinari tempat tersebut, maka dari itu tuntutlah ilmu, ulama mengatakan :

الجهل نار لدين المرئ يحرقها والعلم ماء لتلك النار يطفيها

Sesungguhnya kebodohan itu seperti api yang membakar agama seseorang, dan ilmu diibaratkan seperti air yang mendinginkan atau memadamkan api tersebut. Maka dari itu jika kehidupan kita tanpa ilmu maka akan jauh dari Allah dan rasulnya

وكلُّ من بغير علم يعملُ ** أعمالُه مَردودَةٌ لا تقبل

Kata ulama barangsiapa yang beribadah tapi tanpa ilmu, maka amal ibadahnya ditolak oleh Allah SWT. Mari sempatkan waktu-waktu kita untuk menuntut ilmu, kata Imam Abdullah bin Alawi Al Haddad, "kadang aku heran, di zaman sekarang ini ada orang mengerti masalah dunianya sampai terperinci"  kadang liat barang itu langsung tau ini beratnya sekian, panjangnya sekian saking pintarnya urusan dunia gak pakai diukur sudah tau, ilmu dunia seperti itu pandainya tapi ilmu yang mendekatkan diri kepada Allah, kadang ditanya tentang furudhul wudhu' (wajibnya wudhu') ada enam ditanya apa aja nggak tau, rukun sholat yang ada 17 tidak bisa menyebutkan, untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak punya ilmu, tapi untuk dunia begitu pandainya mengetahuinya.

Maka dari itu Allah tidak melarang kita untuk mengetahui ilmu dunia tapi Allah mewajibkan kepada kita untuk mengedepankan ilmu yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Mari tuntutlah ilmu, hiasi keluarga dengan ilmu, senantiasalah kita bareng ngaji beserta anak istri, perhatikan ilmu akhirat untuk anak-anak kita, investasi kita kelak nanti di yaumil qiyamah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH GUS DUR MEMBELA PARA HABAIB

Tahun 1993, ada peristiwa terdasyat atas fitnah yang ditujukan kepada para Habib, yaitu sebuah statemen yang diucapkan oleh ketua MUI saat itu KH. Hasan Basri.  Statemen itu di muat di surat kabar yg berbunyi “Tidak ada anak keturunan Rasulullah ﷺ di Indonesia bahkan di dunia, karena sudah dinyatakan terputus dikarenakan tidak adanya lagi keturunan Hasan dan Husen.” Mendengar itu Alhabib Muhammad al Habsy Kwitang (saat itu beliau sedang sakit) memerintahkan Alhabib Nauval bin Jindan untuk membela kehormatan anak cucu Rasulullah ﷺ . Apa daya Alhabib Nauval bin Jindan meski dari panggung ke panggung berceramah tidak meredakan kegaduhan.  Akhirnya Gus Dur mendengar kegaduhan ini, pada saat Alhabib Nauval bin Jindan mengadakan ceramah di satu tempat, Gus Dur datang dan berinisiatif untuk bicara.  Gus Dur dengan tegas mengatakan; “Hanya orang bodoh yang mengatakan batu permata di bilang batu koral dan yang paling bodoh batu permata kok dihargakan batu kerikil, mereka para cucu...