Langsung ke konten utama

Ramadhan sebagai Pesantren atau Universitas untuk menumbuhkan perangai



Ramadhan diberi gelar dengan beragam nama kemuliaan, seperti Syahrul Ibadah (bulannya ibadah), Syahrus Khair (bulan kebajikan), Syahrul Maghfirah (bulan ampunan), Syahrul Qur'an (bulan Al Qur'an), Syahrur Rahmah (bulan kasih-sayang), Syahrus Sa'adah (bulan kebahagiaan) dan sebagainya.

Hal itu dikarenakan bulan Ramadhan merupakan bulan  yang sangat mulia diantara bulan-bulan lainnya. Bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur'an, bulan yang didalamnya terdapat malam yang lebih mulia dari seribu bulan (Lailatul Qadar), dan banyak lagi kemulian lainnya.

Pada bulan ini banyak orang-orang yang berlomba-lomba melakukan kebaikan, contoh umumnya seperti berlomba-lomba dalam menghatamkan Al Quran dan lain sebagainya. Karna mereka mengharapkan ganjaran yang telah dijanjikan oleh Allah SWT untuk dilipat gandakan.

Nabi Muhammad SAW bersabda :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، وَوَكِيعٌ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ
[ابن ماجه، سنن ابن ماجه، ٥٢٥/١]

Abu Bakar bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami berkata: Abi mu'awiyah dan Waqi' menceritakan kepada kami dari Aghmasy, dari Abi Shalih, dari Abi Hurairah berkata: Rasulullah SAW bersabda: Setiap amal ibadah anak-cucu nabi Adam itu akan dilipatgandakan, satu kebaikan dilipatgandakan dengan sepuluh pahala sampai dengan tujuh ratus lipat ganda bahkan sampai pada yang dikehendaki Allah SWT. (Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Juz 1 Hal 525)

Namun esensinya bahwa Ramadhan merupakan Pesantren atau Universitas untuk membimbing dan membiasakan diri dengan perbuatan-perbuatan kebajikan sehingga dapat diterapkan di sebelas bulan setelahnya. 

Sehingga ketika kita berhasil menumbuhkan kebiasaan di bulan suci Ramadhan maka harapan kita adalah semoga kebiasaan itu tidak putus dan dapat trus diaplikasikan sampai Ramadhan berikutnya.

Sama halnya dengan santri yang belajar di Pondok Pesantren, mereka dididik bahkan dikontrol selama 24 jam dengan kewajiban-kewajiban serta larangan-larangan guna menumbuhkan tabiat/perangai yang melekat dalam dirinya sehingga dapat diamalkan ketika sudah berada diluar pesantren.

Inilah esensi dari bulan suci Ramadhan yakni sebagai Universitas atau Pesantren dengan visi dan misi menumbuhkan tabiat positif yang melekat pada diri kita.


Kang Atho'

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH GUS DUR MEMBELA PARA HABAIB

Tahun 1993, ada peristiwa terdasyat atas fitnah yang ditujukan kepada para Habib, yaitu sebuah statemen yang diucapkan oleh ketua MUI saat itu KH. Hasan Basri.  Statemen itu di muat di surat kabar yg berbunyi “Tidak ada anak keturunan Rasulullah ﷺ di Indonesia bahkan di dunia, karena sudah dinyatakan terputus dikarenakan tidak adanya lagi keturunan Hasan dan Husen.” Mendengar itu Alhabib Muhammad al Habsy Kwitang (saat itu beliau sedang sakit) memerintahkan Alhabib Nauval bin Jindan untuk membela kehormatan anak cucu Rasulullah ﷺ . Apa daya Alhabib Nauval bin Jindan meski dari panggung ke panggung berceramah tidak meredakan kegaduhan.  Akhirnya Gus Dur mendengar kegaduhan ini, pada saat Alhabib Nauval bin Jindan mengadakan ceramah di satu tempat, Gus Dur datang dan berinisiatif untuk bicara.  Gus Dur dengan tegas mengatakan; “Hanya orang bodoh yang mengatakan batu permata di bilang batu koral dan yang paling bodoh batu permata kok dihargakan batu kerikil, mereka para cucu...