Langsung ke konten utama

Ilmu Tiket Menuju Bahagia

suasana kuliah di Fakultas Syarian IAIN Pontianak


Kebahagiaan merupakan hal yang didamba-dambakan oleh setiap orang, siapa yang tidak ingin bahagia? tentu semuanya ingin, siapa saja pasti ingin meraih kehidupan yang tenang, nyaman, damai, dan bahagia. Tapi semua itu tidak mudah, karna bahagia itu mahal. 

Banyak orang yang ingin memiliki rumah bertingkat-tingkat, mobil yang kilat, uang berlipat-lipat, namun tidak mau meluangkan waktunya untuk belajar, menguras tenaganya untuk bekerja, maunya duduk, makan, tidur, bangun dan tidur lagi, mana mungkin???? karna sekali lagi bahagia itu tidak murah. Lalu bagaimana caranya?.

Di antara syarat primer untuk mendapatkan kebahagian ialah ilmu. Ilmu adalah syarat utama mendapatkan kebahagiaan. Sebagaimana hadits yang cukup populer di pendengaran kita :

من أراد الدنيا فعليه بالعلم، ومن أراد الآخرة فعليه بالعلم، ومن أراد هما فعليه بالعلم

"Barangsiapa yang menginginkan kebahagian di dunia maka dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan di akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa siapa yang menginginkan keduanya maka juga dengan ilmu"

Jadi, ilmu sangat berperan terhadap kita untuk menuju kebahagiaan, karna esensinya semua ada ilmunya, begitupula dengan bahagia. Maka orang yang tidak berilmu sangat sulit mendapatkan kebahagiaan, orang yang berilmu saja terkadang juga masih belum hidup bahagia, karna masih belum pandai dalam merealisasikan ilmunya, apalagi orang yang tidak berilmu, sehingga ilmu itu menjadi tiket untuk menggapai kebahagiaan. Maka truslah belajar karna kehidupan akan trus memberi kita pelajaran.


Kang Atho'

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH GUS DUR MEMBELA PARA HABAIB

Tahun 1993, ada peristiwa terdasyat atas fitnah yang ditujukan kepada para Habib, yaitu sebuah statemen yang diucapkan oleh ketua MUI saat itu KH. Hasan Basri.  Statemen itu di muat di surat kabar yg berbunyi “Tidak ada anak keturunan Rasulullah ﷺ di Indonesia bahkan di dunia, karena sudah dinyatakan terputus dikarenakan tidak adanya lagi keturunan Hasan dan Husen.” Mendengar itu Alhabib Muhammad al Habsy Kwitang (saat itu beliau sedang sakit) memerintahkan Alhabib Nauval bin Jindan untuk membela kehormatan anak cucu Rasulullah ﷺ . Apa daya Alhabib Nauval bin Jindan meski dari panggung ke panggung berceramah tidak meredakan kegaduhan.  Akhirnya Gus Dur mendengar kegaduhan ini, pada saat Alhabib Nauval bin Jindan mengadakan ceramah di satu tempat, Gus Dur datang dan berinisiatif untuk bicara.  Gus Dur dengan tegas mengatakan; “Hanya orang bodoh yang mengatakan batu permata di bilang batu koral dan yang paling bodoh batu permata kok dihargakan batu kerikil, mereka para cucu...